Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Dukungan pemerintah terhadap sineas Indonesia di ajang internasional perlu dimaksimalkan, sehingga sineas tak perlu lagi mencari sponsor seperti dilakukan Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang memberangkatkan sineas ke ajang Festival Film Cannes 2016.

BPI menjembatani sineas yang berkompetisi di ajang internasional termasuk di Festival Film Cannes, dimana film pendek Prenjak karya sineas Yogyakarta meraih kemenangan. 

"Kami sangat bangga atas prestasi Wregas Bhanuteja dan kawan-kawan. Ini lagi-lagi membuktikan bahwa kira punya bakat-bakat yang cemerlang," kata Kemala menanggapi kemenangan film Prenjak di Cannes. 

Menurut Kemala, bukan pertama kali BPI menjembatani sineas ke berbagai festival atau acara perfilman lain di luar negeri. 

"Ada puluhan rekomendasi kami keluarkan,  puluhan orang kita bantu carikan sponsor baik ke Pemerintah maupun swasta agar insan film bisa menambah wawasan dan bergaul dengan insan film luar negeri. Tapi kami tak ingin hal-hal semacam itu digembar-gemborkan," katanya kepada tabloidkabarfilm.com, Sabtu (21/5/2016).

Prenjak menurut Kemala, merupakan karya seni yang baik. Ia menjadi kritik sosial yang dinilai secara estetis.

"Seniman sering memaksa kita menghadapi suatu realitas yang justru kerap ditutup-tutupi. Karya seni tak jarang bisa berperan membuka tabu-tabu kemunafikan, kebohongan, dan kepalsuan kita. Lewat karya-karyanya, kita justru dapat belajar menjadi manusia yang lebih baik dan lebuh luhur," katanya.

Karena itu, dia mendukung terciptanya keadaan yang kondusif agar seniman bisa melahirkan karya-karyanya secara maksimal. Perlu ruang kebebasan bagi para seniman untuk mewujudkan gagasan, ide-ide, kritik, perasaan, dan impian-impiannya dalam bentuk karya seni.

"Seniman bukanlah ilmuwan, ideolog, atau filosof. Seniman ya seniman. Yang diungkapkan dalam seni adalah campuran perasaan, imajinasi, khayalan, impian, dorongan, naluri, ide-ide, pendapat, yang semuanya berpusat pada nilai estetis karyanya. Seniman didorong oleh nilai keindahan, meskipun bukan keindahan dalam pengertian dangkal," jelasnya.

Seni yang baik menurutnya, bisa menimbulkan kontroversi dan kesan provokatif. Sebab seorang seniman mampu membuka dimensi yang lebih mendalam tentang realitas manusia. "Seniman menghayati sedalam-dalamnya realitas dan mengungkapkan dimensi yang terpendam dari realitas itu ke dalam karyanya, entah itu realitas dunia, realitas sosial, atau realitas personal manusia," lanjut Kemala.

Tentang peran pemerintah untuk keberangkatan film Indonesia ke luar negeri, menurut Kemala Atmojo, hal itu disesuaikan dengan anggaran yang ada di pemerintah (Kemendikbud-red). "Karena itu BPI selalu berusaha mencari dari berbagai sumber. Selain Pemerintah juga dari swasta. Termasuk dari uang potongan pendapatan pengurus BPI," ungkapnya.

Mengapa pemerintah tidak memberi dukungan sepenuhnya untuk kegiatan semacam Festival Film Cannes? "Soal itu saya kurang tahu. Tapi anggaran itu dibagi-bagi dengan aneka keperluan. Tapi, Pemerintah cukup membantu kok. Kalau masih ada yang perlu berangkat tambahan, ya BPI bantu usahakan," kata Kemala.

Peserta ke ajang festival film di Cannes menurut Kemala didaftarkan sendiri oleh masing-masing sineas. "Kalau sudah masuk seleksi, BPI membantu fasilitasi agar bisa berangkat. Karena kalau pendaftaran itu pemiliknya yang isi formulir," kata Kemala Atmojo.(imam)

 

Last modified on Saturday, 21 May 2016
Read 3120 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru