Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Drama keluarga dengan kedalaman cerita yang berbeda, ditampilkan dalam film Lima produksi Lola Amaria Production. Berbeda karena menukil penghayatan atas nilai-nilai Pancasila, yang mencair di setiap 'babak'-nya.

Kemajemukan Indonesia tidak hanya terlihat di lingkungan sosial masyarakat, tetapi hadir di dalam rumah. Di sebuah keluarga. 

Tidak sedikit keluarga Indonesia yang memahami demokrasi Pancasila; membebaskan para penghayat agama tertentu untuk berinteraksi dengan penghayat agama lainnya.

Munculnya sentimen dalam keagamaan dan penolakan terhadap etnis tertentu, sangat melukai kebhinekaan Indonesia. 

Sayangnya, beberapa tahun semenjak peristiwa kerusuhan Mei 1998 ketakutan senantiasa hadir membayangi kehidupan masyarakat, terutama saat jelang pesta demokrasi pemilihan gubernur, termasuk pemilihan presiden.

Dalam konteks itu, film Lima mencoba memberi gambaran terbuka dan gamblang, jelas dan jujur tanpa khawatir untuk dianggap menistakan agama oleh agama lainnya. 

Narasinya adalah kehidupan keluarga modern yang membicarakan persoalan hukum dalam agama Islam dan Kristen, pembagian warisan, serta tentang hukum negara.    

Sebuah keluarga tanpa seorang ayah di dalamnya, belakangan diketahui sang ayah telah meninggal dunia. Mereka terdiri dari Ibu dan tiga anaknya yang harus mandiri, serta seorang pembantu rumahtangga. 

Tiap karakter diplot untuk membawa pesan dari setiap sila Pancasila.Kelima sutradara di film ini, Shalahudin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo berhasil mengendalikan diri masing-masing untuk tetap setia pada skenario Titien Wattimena, sehingga para pemain -- Tri Yudiman (Maryam), Prisia Nasution (Fara), Yoga Pratama (Aryo), Baskara Mahendra (Adi), dan Dewi Pakis (Ijah) – berperan sangat natural.

Film dibuka dengan sodokan keras tentang hal yang selama ini tabu di film Indonesia, yakni ibu Maryam yang sakit keras dan didoakan oleh seorang pendeta. 

Pada scene lainnya, ketika dia meninggal dunia, prosesi pemakaman dilakukan secara Islam, dikafani dan disolatkan.Tidak mudah bagi jenazah Maryam untuk disolatkan di masjid, karena pengurus masjid selama ini tahu Maryam adalah non muslim. 

Sementara, bi Ijah pembantunya sempat melihat di hari-hari terakhir hidup Maryam menjalankan ibadah solat di kamarnya. Atas bantuan ibu ketua RT prosesi pemakaman secara Islam ini berjalan normal.

Ketiga anak Maryam sendiri berbeda agama. Fara dan Adi beragama Islam, sedangkan Aryo adalah seorang Kristen (kalung salib bertengger di lehernya). Sempat terjadi diskusi diantara mereka, terkait permintaan sang Ibu agar tidak mencabut gigi palsunya jika mati.

Bagi Fara, sang ibu harus ‘suci’ sebelum dimakamkan. Sehingga cat kuku di jari ibunya harus dibersihkan dan gigi palsunya wajib dicopot. “Ibu harus suci seperti ketika dia lahir,” ujar Hera pada Aryo dan Adi.

Diskusi Hera dengan Aryo sempat menjadi alot manakala Aryo sangat ingin ikut menguburkan jenazah ibunya, yang berbeda agama dengannya. 

Sementara menurut Hera, tidak layak Aryo mengusung jenazah ibu mereka ke dalam makam.

“Jadi, yang mau dikubur ibu atau agamanya, sih?” protes Adi, melihat kedua kakaknya bertengkar tanpa penengah dalam urusan agama. 

Tidak ada penjelasan tentang hal itu, lalu adegan beralih ke pemakaman. Cerita berkembang. Usai ditinggal kedua orangtuanya, mereka guyub bersama bi Ijah pembantu yang juga ingin kembali ke kampung. Rumah mulai didatangi petugas pencatan hak waris. Mereka bermusyawarah.

Kendati digarap oleh lima sutradara, jalinan cerita film “Lima” tidak terputus. Hanya saja, dalam hal penceritaan terjadi perbedaan. 

Sepanjang film terdapat beberapa kisah lainnya yaitu pengejaran pencuri hingga dibakar secara massa, sukses atlet dan pelatih yang dibayangi persoalan korupsi oknum pengurus organisasi atlet renang, juga ada peradilan pencurian buah cokelat oleh anak-anak di perusahaan perkebunan.

Menyaksikan film Lima adalah melihat masyarakat Indonesia hari ini, yang seakan lupa bahwa diberikan berkah berupa toleransi dan kebhinekaan.

Mereka goyah dipermaikan sejumlah oknum politisi yang bersinergi dengan kalangan agamawan tertentu. Film yang awalnya dianggap sebagai omnibus ini adalah film utuh jahitan lima orang sutradara. 

Konflik keagamaan, ketidakadilan dan ketimpangan sosial, gagal bermusyawarah, serta lunturnya karakter dan minimnya idealisme yang kesemuanya harus dirawat dan dijaga menjadi benang merah film ini. (imam

Last modified on Monday, 28 May 2018
Read 482 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru