Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sinematek Indonesia (SI) berganti pimpinan dari Adisurya Abdy kepada Akhlis Suryapati ditandai serahterima jabatan disaksikan para pengurus Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Akhlis memimpin lembaga Pusat Data dan Informasi Perfilman Sinematek Indonesia selama periode 2019-2021.

Dalam siaran pers pertamanya pada Rabu (3/7/2019), Akhlis yang mantan wartawan mengungkapkan kondisi terkini lembaga yang dikepalainya.

Menurutnya, SI tidak pernah terancam bangkrut, karena mempunyai sumber dana untuk kelangsungannya.

”Di awal berdirinya, Sinematek yang dirintis oleh Asrul Sani dan Misbah Yusa Biran, mengandalkan modal dari dua tokoh itu, dengan para sukarelawan yang dihonor seadanya. Kini karyawan Sinematek bisa mendapatkan gaji layak, jaminan kesehatan, jaminan ketenagakerjaan, juga jaminan pensiun.

“Tentu saja para karyawan itu selama ini, dari dulu sampai sekarang, terus melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan pengarsipan film dan data perfilman," kata Akhlis. 

Sutradara film Lari Dari Blora dan Enak Tho Jamanku ini mengatakan, SI tidak Iagi terbesar di Asia Tenggara, itu karena negara Iain, seperti Thailand, membangun pusat arsip dan data perfilman dengan dibiayai uang negara. SI adalah pusat arsip dan data film yang dikelola oleh swasta, Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail (YPPHUI). 

”Saya kira YPPHUI mempunyai sumber dana yang membuat Sinematek tidak pernah terancam bangkrut," kata Akhlls Suryapati, seraya menyebut adanya banyak partisipasi masyarakat perfilman.

Bahwa ada sedikit keluhan soal kekurangan biaya atau tidak terkelola maksimal, orang berharap besar dan tinggi kepada SI sebagal pusat arsip dan data perfilman satu-satunya di Indonesia, serta yang pertama di Asia Tenggara. 

Menurut sutradara film Lari Dari Blora (2005) dan Enak Tho Jamanku? (2018), Sinematek sangat penting dan dlbutuhkan oleh masyarakat Indonesia dan internasional untuk riset, perfilman, referensi, pembelajaran, dan lain sebagainya. 

"Orang membayangkan, harusnya Sinematek itu keren dengan gedung artistik megah berlantau marmer, ruangannya adem dan tenang untuk membaca, sinemanya menggelegar kaIau dlpakai menonton film, gudang penyimpannya memillki temperatur stabll sesuai standar pengarsipan fllm, dan fasilitas pengarsipan serta penyimpanan data tersusun dalam filing-filing kabinet yang rapi, terjaga baik materi aslinya maupun content filmnya terdigitalisasi dalam server, dan lain sebagainya. Mungkin seperti Perpustakaan Nasional yang baru itu. 

”Lha, kalau tuntutannya seperti itu, yang Sinematek belum mampu mewujudkan. Duit dari Hong Kong," katanya. "Tetapi sejauh saya dekat dengan Sinematek sejak zaman dlpimpin Pak Misbah, Slnematek belum pernah terancam bangkrut. Kalau mengalami masa-masa miskin, barangkali iya," kata Akhlis. (imam

Last modified on Thursday, 04 July 2019
Read 235 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru