Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Organisasi Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo) menjajaki kerjasama program dengan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Rencana tersebut tertuang dalam pertemuan antara pengurus Pafindo dengan Pusbangfilm di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jendral Sudirman Jakarta, Kamis (9/3/2017). 

Jajaran Pengurus Pafindo dipimpin Ketua Umum Pafindo HRM Bagiono, SH MBA didampingi oleh Wakil Ketua Umum Rizal Gibran dan Bendahara Umum Yanti Yaseer.  

Pengurus lain yang menyertai adalah bintang sinetron, Sartana dan Rita Hasan, aktor film Syamsul Adnan, penulis scenario dan novel Irfan Wijaya, komedian Prapto Mpek-mpek dan Lily.

Sementara dari Pusbangfilm diwakili oleh Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman M Sanggupri, M.Hum, Kepala Bidang Perizinan dan Pengendalian Film, M Kholid Fathoni dan  Kepala Sub Bagian Pengarsipan Rita Siregar. 

Kepala Pusbangfilm Dr Maman Wijaya yang sedianya akan hadir dalam audiensi berhalangan karena harus mengikuti Rapat Pimpinan (Rapim) dengan Mendikbud. 

 

Program Pafindo

Dalam kesempatan tersebut pengurus Pafindo menyampaikan usulan kegiatan yang bisa disinergikan dengan program Pusbangfilm. Kegiatan yang diusulkan adalah Seminar Sehari, Workshop proses kerja produksi film dan pemeranan; Nonton dan Diskusi Film; Lomba Penulisan Skenario dan nonton film Get Lost, film yang diproduksi oleh Ketua Umum Pafindo RM Bagiono.

“Kami harapkan kegiatan yang kami usulkan ini sesuai dengan visi dan missi Pusbangfilm yang telah disusun menjadi program yang siap dijalankan, dan kami siap bekerjasama untuk menjalankannya,” kata RM Bagiono.

Waketum Pafindo Rizal Djibran memaparkan tentang pentingnya sertifikasi bagi aktor dan pekerja film, untuk mengantisipasi perdagangan beban yang akan berlaku di Indonesia. 

“Ke depan semua aktor dan pekerja film itu harus memiliki sertifikat profesi. Sebab kalau tidak, kita akan menjadi penonton di negeri sendiri. Sebanyak apa pun Piala Citra yang kita miliki, tidak ada gunanya ketika pasar bebas berlaku,” kata bintang film dan sinetron yang berprofesi sebagai dosen ini.

Hal lain yang disampaikan Rizal adalah tentang materi ajar untuk anak dalam bentuk audiovisual. Setiap tokoh-tokoh penting yang tercatat dalam sejarah Indonesia, harus difilmkan, dan itu akan menjadi materi untuk pelajaran sejarah.

“Jadi nanti kalau film-film itu sudah dibuat, anak-anak di sekolah tidak perlu membaca buku lagi. Guru tinggal mengambil film yang sesuai dengan pelajaran sejarah, lalu diputarkan di depan anak-anak. Tetapi pembuatannya juga harus berkualitas, supaya menarik,” tambah Rizal.

Anggota Srimulat Prapto Mpek Mpek menyarankan agar kegiatan perfilman bisa dipadukan dengan pariwisata daerah. Banyak daerah di Indonesia yang belum dieksplor ke dalam film, padahal alamnya sangat indah dan menarik untuk pariwisata. 

“Kadang kalau kita datang ke daerah membawa usulan pembuatan film, kepada daerah langsung berteriak: kita tidak punya uang! Saya bilang uang nanti kita yang carikan. Kebetulan saya juga bergabung di Komunitas masyarakat Sumbagsel atau Sumatera Bagian Selatan. Di situ ada Pak Jimly Ashidiqi dan Pak Susno Duadji. Mereka bisa diajak ngomong,” kata Prapto.

Pihak Pusbangfilm tertarik dengan usulan yang ditawarkan Pafindo, karena materinya sesuai dengan program yang akan dijalankan oleh Pusbang Film. 

“Banyak program Pusbangfilm yang sesuai dengan usulan Pafindo. Kita berterima kasih, karena ada program yang akan dijalankan dengan pihak luar. Kami kira Pafindo bisa membantu. Semua nanti akan kita bicarakan teknisnya,” kata Kabid Apresiasi dan Tenaga Perfilman M Sanggupri, M.Hum.

Menurutnya, usulan Pafindo merupakan bagian dari masyarakat, dan pemerintah merasa perlu untuk bekerjasama dengan komponen masyarakat, karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. (imam)

 

Last modified on Friday, 10 March 2017
Read 695 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru