Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Kampung adat Melo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) terasa damai dan sejuk saat tim kecil dari kantor Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangfilm Kemdikbud) bertandang ke desa tersebut pada Minggu (20/8/2017).

Semilir angin, tanah lapang berumput hijau mewarnai panorama perbukitan mencipta keindahan alam yang natural.

Kedatangan tim Pusbangfilm terdiri dari Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman, M Sanggupri dan Tyo (staff) ke desa Melo dalam rangka menghabiskan waktu, setelah menghadiri kegiatan pemutaran film di Labuan Bajo. 

Keduanya diterima dengan keramahan  yang akrab oleh Yosep (87), salah satu tetua adat sekaligus pemilik rumah adat Melo. 

Obrolan di dalam rumah panggung itu cukup santai dan mengalir. Tuan rumah menyajikan teh hangat dengan pemanis dari gula merah.

"Selamat datang, inilah sisa peninggalan sejarah budaya Suku To'e yang akan saya wariskan ke anak-cucu," ujar Yosep membuka percakapan resmi.

Sebelumnya, mereka berbasa-basi, untuk lebih saling mengenal sikap dan adat masing-masing.

Banyak hal diungkap Yosep, terutama soal Ksmpung adat Melo serta pernak-pernik sejarah Suku To'e.

"Kalau begitu kita masih saudara sekampung, pak. Wah, tidak sangka kita bertemu di sini," kata M Sanggupri, ketika Yosep bertutur tentang nenek moyang Suku To'e yang menghuni Manggarai di Pulau Flores itu.

Menurut kakek 11 orang cucu dari lima anaknya itu, nenek moyang mereka adalah asli dari Sulawesi. 

"Kami menyeberang ke Flores, karena menolak dijadikan pekerja oleh Raja Goa di Sulawesi. Nenek moyang kami ada di sini sejak tahun 1700," ungkap Yosep.

Angin sejuk semilir menerobos masuk ke dalam rumah berjendela besar itu. Dari dalam terlihat panorama bukit dan tanah lapang hijau.

Banyak wisatawan berkunjung ke kawasan ini selain tempat lainnya, Labuan Bajo, Pulau Rinca dan Pulau Komodo. 

Rumah panggung (rumah adat Suku To'e) dari bahan kayu yang kami duduki takzim berdiri di sisi kiri tanah lapang yang berundak. 

Posisi jendela rumah menghadap bebas ke laut yang terbentang, nun jauh dibawah sana. 

Sore matahari menjelang rebah di ufuk Barat, suasana kian teduh. Pulau-pulau kecil diantara lautan biru terlihat di kejauhan, terlihat siluet memanjakan mata yang melihatnya.

Keindahan ini terungkap di film "Labuan Hati" karya Lola Amaria, yang selama dua hari (18-19 Agustus) diputar pada acara nonton bareng "Cinema on the Beach" yang mendapat apresiasi dari masyarakat Labuan Bajo.

Dari buku tamu yang telah disiapkan tuan rumah, tercatat daftar nama tamu (wisatawan) berasal dari berbagai negara di belahan dunia. 

 

Agenda putar film

Setelah hampir satu jam, Yosep baru tahu, jika yang diajak bicara adalah 'orang pusat' pemerintahan. 

Sementara, di dalam obrolan tadi dia banyak menyinggung mengenai tidak perhatiannya pemerintah pada nasib Kampung adat Melo.

"Kami dari Pusbangfilm, berada dibawah Kemendikbud. Semoga persolan di sini, terutama bantuan sanggar budaya, bisa saya sampaikan ke bidang terkait di Kemdikbud," kata M Sanggupri saat memperkenalkan instansinya.

Mendengar hal itu, Yosep tampak berubah air mukanya. Dia pun membuka cerita mellow lebih jauh lagi tentang Sanggar Compang To'e yang didirikannya tahun 2001, taman bacaan Pelangi, dan rencana perbaikan rumah yang mulai miring.

Melalui obrolan informal itulah, Sanggupri menangkap sinyal tentang perlunya warga di sana mengenal "dunia lain" melalui film.

Terutama hal ini terkait dengan program pemutaran film Pusbangfilm di 70 titik setingkat Kecamatan yang tidak punya akses dengan bioskop.

"Saya tertarik mengajak warga di sekitar desa ini untuk menonton film layar lebar. Jika bapak mengizinkan, kami akan agendakan," kata Sanggupri. 

Tanpa berlama-lama, Yosep menyetujui rencana tersebut. Kemudian mereka keluar rumah panggung, melihat suasana untuk memastikan posisi layar film dan penonton nantinya.

"Lapangan ini sangat layak untuk kegiatan putar film. Ini saya akan jadwalkan, setelah melaporkan ke atasan di Jakarta nanti," lanjut Sanggupri.

Setelah saling berbagi nomer telepon, mereka pun mengucapkan salam perpisahan. 

Tim Pusbangfilm meninggalkan Desa adat Melo di Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat dan langsung menuju hotel tempat menginap di Labuan Bajo berjarak 40 km. (imam)

Last modified on Tuesday, 29 August 2017
Read 235 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru