Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

RUMAH produksi Kepompong Gendut milik produser Sammaria Simanjuntak kembali bekerja. Semangatnya konsisten, dengan budget yang minim.

Hal tersebut dikatakan Sammaria yang dijumpai kabarfilm.com di sela syuting perdana Selamat Pagi, Malam di Hotel Sultan, Jakarta Senin (30/10/2013) siang.

“Kita syuting sembilan hari plus 2, kenapa? Karena low budget,” ungkap Maria, yang film produksi pertamanya, Demi Ucok meraih sukses setahun silam. Meskin berbiaya kecil, penggarapan film dilakukan secara profesional. “Budget kami memang kecil tapi tim kami profesional, berstandard film besar lho, dan hasilnya juga besar..” lanjutnya.

Ya, semangat membuat film berkualitas memang sangat ‘mahal’. Beruntung, Maria didukung tim satu visi yang bekerja spartan dan cekatan. “Tidak boleh take lebih dari tiga kali. Karena sebelum syuting, seluruh tim sudah fokus dalam proses reading yang intens,” katanya.

Sutradara Lucky Kuswandi (kiri) saat men-dirrect Marisaa Anita dan Adinia Wirasti [foto: PT Kepompong Gendut]Sebagai produser, wanita kelahian Bandung, 4 Mei 1983 ini pernah bekerja setahun sebagai arsitek. Namun impian terkuatnya membuat film. Dia pun meninggalkan ruang arsitek, dan memilih mengarsiteki film.

Pada tahun 2009 Sammaria meluncurkan film panjang pertamanya berjudul cin(T)a. Tahun 2010, dia menyutradarai filmdokumenter pertamanya Lima Menit Lagi (bagian dari antologi Working Girls yang dirilis di bioskop pada bulan Juni 2011). Setahun kemudian, Sammaria mendirikan PT Kepompong Gendut, dan memproduksi Demi Ucok.

Berbeda dengan produksi pertamanya, dia menjadi produser sekaligus sutradara, kali ini dia serahkan penyutradaraan dan penulisan skenario kepada Lucky Kuswandi (sutradara Madame X).

“Lucky yang punya ide untuk proyek film ini, skripnya pernah masuk JiFFest dan beberapa festival film di luar negeri. Ini pertama kali aku memproduseri film karena pingin nonton filmnya, “ kata Maria, seraya menyebut, filmnya bicara tentang Jakarta di suatu malam, juga tiga cerita, dan tiga wanita.

Ada Anggia yang pulang ke kampung halamannya, Jakarta, setelah lama menetap di New York, tapi Jakarta seperti bukan rumahnya lagi. Ada Indri yang mencari pangerannya. Dan, ada karakter Bu Surya yang ingin menemukan identitasnya yang selama ini hilang.

Lucky sang sutradara menimpali, “Saya sudah lama menulis skrip film ini. Dari pengalaman pribadi ketika saya balik ke Indonesia. Malam-malam aku tidak bisa tidur karena beda waktu jadi aku sering kesepian kalau malam-malam melihat Jakarta. Jakarta malam hari indah banget. Kalau siang semua orang menjalani kewajibannya dengan topeng masing-masing dan di malam hari topengnya dilepas sehingga kelihatan Jakarta yang aslinya.”

“Kota Jakarta yang mengadposi berbagai identitas. Sampai pada akhirnya.. Tidak ada yang tahu siapa Jakarta sebenarnya. Hanya di malam hari, kota ini melepaskan topengnya dan menjadi diri sendiri. Di suatu malam yang sangat biasa ini, tiga wanita di atas perlahan melepaskan topengnya. Demi mendapatkan sebuah permulaan yang baru, “ ujar Lucky.

Dalam film ini dihadirkan para pemain Adinia Wirasti, Marissa Anita, Trisia Triandesa, Deera Sugandi, Ina Patricia Graziella, dan Dayu Wijanto, Paula Agusta, Sunny Soon, dan lain-lain.

Hadirnya para pemain tersebut tak menjadikan mereka unggul dibandingkan lainnya. “Para pemain mewakili berbagai karakter. Ini film multi plot yang melankolis tapi bisa ditonton sambil ketawa-ketawa. Tidak ada peran utama, karena semua peran menentukan,” jelas Maria.

Komposisi tim produksi film ini merupakan kumpulan profesional, yang memiliki pertemanan cukup kuat. “Semua cast adalah teman yang memberi enerji besar, dan itu tak terbayarkan. Saya membuat film tidak muluk-muluk, bahkan yang diatas kertas tidak ada penontonnya,” pungkas Sammaria Simanjuntak. (kf/imam)

Last modified on Saturday, 08 March 2014
Read 3595 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru